Kulit Nanas Disulap Jadi Teh Kaya Manfaat

Kulit nanas yang selama ini menjadi bagian buah nanas ternyata dapat dimanfaatkan sebagai produk olahan yang kaya manfaat. Inilah yang coba digarap oleh tiga mahasiswa Program Studi (Prodi) Keuangan dan Perbankan D3 Ekonomi UII angkatan 2017. Mereka berinisiatif untuk lebih menggali sisi manfaat kulit nanas tersebut menjadi produk yang lebih bernilai. Nama Teh Herlina disematkan sebagai nama produk. Nama itu diambil dari bahan dasar pembuatannya yaitu “Teh herbal dari kulit nanas”.

Adalah Bagas Wahyu Nusantara, Estu Pujiarsih, dan Faiza Salsabila di balik ide menarik tersebut. Mereka mampu mengubah kulit nanas menjadi sebuah produk yang memiliki berbagai macam manfaat untuk kesehatan yaitu Teh Herlina.

Produk yang diusung tersebut berhasil meraih juara 3 dalam kompetisi Business Plan Digital Start-up yang diadakan oleh kampus D3 Ekonomi Universitas Andalas Padang pada 22 Maret 2019. Pengembangan produk teh kulit nanas juga mendapat dukungan dari dosen pembimbing Dityawarman El Aiyubbi, SE, M.Ek.

Dikatakan Bagas selaku ketua tim, cara membuat teh kulit nanas pada dasarnya cukup sederhana. “Tahap awal adalah pencucian kulit buah, kemudian dilanjutkan pengeringan selama 3-4 hari. Setelah itu diblender untuk memperhalus kulitnya dan terakhir tinggal memasukkanya ke dalam kantung teh celup dan bag. Kemudian siap untuk dikonsumsi dan dipasarkan”, ungkapnya.

Adapun manfaat yang terkandung di dalam teh kulit nanas menurutnya antara lain baik untuk kulit dan memiliki kandungan senyawa flovonoid yang bagus untuk tubuh, memperkuat sistem imun karena kandungan vitamin C, serta berkhasiat sebagai anti-oksidan.

Ditambahkan Bagas, salah satu motivasi timnya untuk mengikuti lomba ini adalah untuk mengasah keterampilan dan mengembangkan kreatifitas. Selain itu, mereka juga tertantang membuat inovasi baru dalam bidang business sebagai bekal pengalaman sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.

Mahasiswa asal Sumbawa ini juga menceritakan rintangannya dalam mengikuti kompetisi ini. “Rintangannya itu terkait waktu saja. Karena dengan waktu yang singkat kami harus membuat produk serta memasarkan produk yang masih baru dengan target penjualan yang cukup tinggi.” Ujarnya.

Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, Teh Herlina ini disarankan untuk dikonsumsi 2 hari sekali dan cara mengkonsumsinya pun sama dengan teh biasa. Saat ini teh Herlina telah dipasarkan melalui marketplace dengan harga yang terjangkau yakni Rp. 16.500,00,-. (DRD/ESP)

Milenial Punya Motivasi Tebar Manfaat

Dunia secara konstan terus mengalami perubahan. Banyak peristiwa besar yang mengubah perilaku manusia menuju cara-cara baru. Salah satunya kehadiran inovasi dan digitalisasi melalui revolusi industri 4.0. Perubahan ini dibarengi dengan tumbuhnya generasi milenial yang sangat erat kehidupannya dengan teknologi. Milenial memiliki potensi yang harus dikembangkan sekaligus tidak bisa diremehkan.

Hal inilah yang banyak diulas dalam tajuk seminar nasional public speaking ‘Be a Good Millennial Influencer’ yang diselenggarakan Program Diploma III Perbankan dan Keuangan di Gedung Auditorium K.H. Abdul Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia (UII) pada Rabu (6/3). Acara yang menghadirkan Oki Setiana Dewi, S.Hum., M.Pd. ini banyak menyinggung peran milenial dalam menebar manfaat.

“Seharusnya mengundang Ria Ricis ke sini, kenapa saya?”, candanya saat membuka seminar. Pendakwah muda ini menjelaskan bahwa generasi milenial yang lahir pada tahun sekitar 1980 – 2000 sangat akrab dengan teknologi. Di antara generasi tersebut menekuni profesi influencer atau orang yang memiliki pengikut yang banyak dan berpengaruh.

Pertumbuhan milenial ini juga selaras dengan hasil penelitian Internet World Stats (IWS) 2018, di mana Indonesia menduduki peringkat 4 dalam frekuensi akses internet, sedangkan 51,8% masyarakat Indonesia telah melek teknologi.

Oki lalu menerangkan bahwa sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesama. Baginya, menjadi influencer adalah satu hal yang dicapai dengan branding diri yang konsisten, namun dalam proses menuju ke sana juga proses menebar kemanfaatan. Untuk itu ia mengajak hadirin agar pandai menggali minat dan potensi.

Pemeran utama dalam film ‘Ketika Cinta Bertasbih 2’ itu juga menceritakan pengalaman saat merintis karir sebagai artis dan dunia akademik di saat bersamaan. “Pernah shooting dari sore hingga subuh, dan jam 8 pagi sudah harus mengikuti ujian di kampus. Saya terpaksa belajar di dalam mobil meski minim pencahayaan. Rasa lelah sempat membuat down namun saya ingatkan diri tentang target. Akhirnya dengan bermodalkan gadget di tangan, saya berhasil meraih nilai tertinggi ujian pada saat itu,” pungkasnya. (IG/ESP)

Pengumuman Dosen Pembimbing Tugas Akhir untuk mahasiswa magang Semester Genap TA 2018/2019